Menu akurat logo

Connect with us

Pembangunan Infrastruktur

[INFOGRAFIS] Kemana Titik Tekan Pembangunan Harus Digiring?

Infografis  /  Ekonomi  /  Jumat, 09 Juni 2017 16:16 WIB  / 923 Views

AKURAT.CO, International Institute for Management Development (IMD) meluncurkan “The 2017 IMD World Competitiveness Yearbook” pada 1 Juni yang lalu, dimana untuk pelaksanaan survey dan pengumpulan data di Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Management FEB Universitas Indonesia dan Nu PMK.

Pada tahun ini, Indonesia menduduki peringkat ke 42 dari total 63 negara yang dilakukan survey. Peringkat tersebut naik sebesar 6 tingkat dari tahun 2016, namun posisi peringkat tersebut masih dibawah pencapaian pada tahun-tahun sebelumnya yaitu pada posisi 39 pada 2013 dan posisi 37 pada 2014.

Penilaian rating dilakukan melalui 2 (dua) metode yaitu penilaian melalui data perekonomian dan penilaian persepsi oleh pelaku usaha. Komponen penilaian dikelompokkan atas 4 indikator utama yang meliputi : kinerja perekonomian, tingkat efisiensi sektor pemerintahan, tingkat efisiensi sektor bisnis, dan kondisi infrastruktur per masing-masing negara. Sedangkan penilaian rating oleh pelaku bisnis dilakukan melalui survei “Opinion Leader” yang melibatkan lebih dari seratus responden yang mewakili institusi bisnis terkemuka di Indonesia dengan melakukan pengisian form online. Hasil penghitungan keseluruhan skor dan peringkat daya saing seluruh negara dilakukan oleh pihak IMD.

Berdasarkan hasil riset tersebut , maka posisi Indonesia relatif masih tertinggal jika dibandingkan dengan peringkat negara-negara di kawasan Asia Pasifik,karena rata-rata peringkat daya saing di kawasan tersebut berada pada 11 hingga 13 dunia.Sementara dibandingkan dengan negara-negara kawasan ASEAN, Singapura menduduki peringkat tertinggi yaitu berada pada posisi ke-3, disusul Malaysia (24), Thailand (27), serta Filipina di posisi ke 41 tepat di atas Indonesia. Meskipun daya saing Indonesia sudah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, namun Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Posisi Daya Saing

Secara umum, peringkat daya saing Indonesia relatif lemah di sektor infrastruktur, yaitu menduduki peringkat ke 59 dari 63 negara. Peringkat komponen infrastruktur meliputi: infrastruktur dasar (peringkat 45), infrastruktur teknologi (54), infrastruktur sains (52), kesehatan & lingkungan (58) serta pendidikan (61). Sejumlah aspek lainnya yang perlu dilakukan perbaikan adalah meliputi : perdagangan internasional (56), investasi asing (50), legislasi bisnis (53) serta tingkat produktivitas dan efisiensi sektor bisnis (53). Sedangkan aspek yang dinilai sudah cukup baik meliputi : perekonomian domestik (13), lapangan kerja (13), kebijakan pajak (6) dan pasar tenaga kerja (4).

Selain publikasi indeks daya saing, IMD juga merilis peringkat daya saing digital. Dalam indeks tersebut, Indonesia berada pada posisi ke 59, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya pada posisi ke 60. Penilaian daya saing digital diukur berdasarkan 3 (tiga) indikator utama yaitu : pengetahuan (peringkat 58 dari 63 negara), teknologi (peringkat 56 dari 63 negara), dan future readiness (peringkat 62 dari 63 negara).

Pada aspek pengetahuan, perlu dilakukan upaya untuk peningkatan bakat, peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan serta peningkatan konsentrasi ilmiah. Sedangkan aspek teknologi perbaikan yang diperlukan yakni pada perbaikan kerangka kebijakan yang mendukung inovasi bisnis serta peningkatan kualitas infrastruktur teknologi. Sedangkan, pada aspek future readiness, faktor yang perlu ditingkatkan adalah partisipasi penggunaan internet serta integrasi sistem IT.

Pemaknaan Data Bagi Pembangunan Berkelanjutan

Managing Director LM FEUI Toto Pranoto mengatakan, jika mengacu pada survei ini, titik krusial yang dihadapi Indonesia terletak pada semua komponen pembangunan.

Pada komponen kinerja ekonomi saat ini memerlukan perhatian cukup besar dari pemerintah, dengan harapan mampu menstimulasi pembangunan yang berkelanjutan. Pada komponen efisiensi pemerintahan titik krusial pembenahan perlu dilakukan pada kerangka institusional, hukum bisnis, dan kerangka sosial di dalam pemerintahan itu sendiri.
"Pada komponen efisiensi bisnis, aspek yang perlu dibenahi terletak pada daya produktivitas dan efisiensi bisnis," ungkap Toto di Jakarta, Kamis (8/6).

Adapun pada sektor infrastruktur titik krusial terletak pada semua aspek daya dukung pembangunan infrastruktur, meliputi: infrastruktur dasar, teknologi, scientific infrastruktur, kesehatan dan lingkungan, serta edukasi. Sejumlah permasalahan pada government dan corporation, memerlukan ruang harmonisasi supaya kebijakan publik dan bisnis dapat beririsan membentuk pertumbuhan ekonomi yang solid.

"Dengan target pertumbuhan ekonomi (Product Domestic Bruto-PDB) tahun 2018 sebesar 5,4 s.d. 6,1%, maka daya dukung manajemen sangat diperlukan. Pemahaman manajemen tata kelola kebijakan publik harus dapat memahami tata kelola private sebagai entitas bisnis," jelas Toto.

Beberapa keunggulan dalam komponen yang dilihat dalam survey ini merupakan strategic positioning Indonesia dalam perekonomian global. Beberapa aspek tersebut mencakup kebijakan ketenagakerjaan, kebijakan pajak, dan pasar tenaga kerja.

"Jika dilihat lebih lanjut, ketiga sektor tersebut merupakan enabler factor dalam pengembangan sektor industri dan pembangunan infrastruktur fisik. Hanya saja, daya dukung infrastruktur masih memerlukan akselerasi atau percepatan pada saat yang bersamaan. Mengingat, semua sektor pada komponen infrastruktur yang dimiliki Indonesia saat ini relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga," pungkas Toto.

Sebagai informasi, IMD adalah sekolah bisnis terkemuka dunia yang berpusat di Swiss, setiap tahunnya melakukan publikasi hasil riset terkait peringkat daya saing suatu negara. Adapun, Lembaga Management (LM FEB UI) merupakan lembaga konsultan management, yang telah berusia 54 tahun. Hingga saat ini jumlah negara yang diriset sebanyak 63 negara dengan sumber penilaian dari data statistik makroekonomi dan bisnis serta hasil penilaian rating para pelaku bisnis yang mewakili eksekutif dari perusahaan terkemuka dari masing-masing negara. []



Infografis Lainnya